Malam itu udara terasa pengap. Terdengar
bunyi berderit-derit, sesekali suara jangkrik berlalu di tengah rintihan
dari salah satu bilik sempit di wisma Dolly.
”Ah, kau hebat sekali, Min,” ucap Parji memuji ketrengginasan Minul di atas ranjang.
”Hampir saja napasku terasa putus,” lanjutnya sambil menyeka keringat dengan handuk.
Selepas mereguk kenikmatan laknat itu,
Parji membenahi kembali pakaian dinas pejabatnya yang sebelumnya
dilucuti dengan napas memburu.
”Berapa bayaranmu untuk...